Jakarta (DMS) – Kreator sekaligus pengisi suara karakter Minion, Pierre Coffin, mengungkap berbagai rahasia di balik suara minion khas makhluk kuning yang populer melalui waralaba Despicable Me. Mulai dari penggunaan bahasa unik yang dikenal sebagai “Minionese”, teknik pengolahan suara enam semitone lebih tinggi, hingga inspirasi dari nama aktris dan berbagai hidangan internasional.
Dalam wawancara yang dikutip Variety, Coffin mengaku dirinya bahkan tidak bisa langsung menirukan suara Minion kapan saja meskipun telah mengisi suara karakter tersebut sejak film pertama dirilis pada 2010.
“Jika Anda meminta saya untuk menirukan suara Minions sekarang, saya tidak akan bisa melakukannya,” ujar Coffin.
Ia menjelaskan suara Minion sebenarnya berasal dari suaranya sendiri yang direkam dalam tempo lambat, kemudian dinaikkan enam semitone menggunakan perangkat lunak khusus sehingga menghasilkan nada falsetto yang menjadi ciri khas karakter tersebut.
Awal mula lahirnya suara Minion bermula dari naskah film pertama karya Cinco Paul dan Ken Daurio. Dalam salah satu adegan disebutkan bahwa para Minion meneriakkan nama Gru saat karakter utama itu memasuki panggung.
Menyadari para Minion tidak digambarkan sebagai karakter bisu, Coffin sempat meminta tim pengisi suara kepada pendiri Illumination, Chris Meledandri. Namun hasil yang diperoleh dianggap terlalu kaku dan terdengar seperti suara komputer.
Berbekal pengalaman di industri periklanan, Coffin kemudian mencoba mengisi suara tersebut sendiri dengan cara berimprovisasi menggunakan berbagai ocehan tanpa makna yang diselipi sejumlah kata sederhana.
“Saya tidak benar-benar tahu harus berkata apa, jadi saya hanya mengucapkan ocehan, tetapi dengan beberapa kata yang muncul di sana-sini. Saya rasa saya mengatakan ‘pancake’ dan ‘panna cotta’. Kata-kata berawalan huruf ‘p’ terdengar lucu,” katanya.
Setelah rekaman itu dimodifikasi dan dikirim kepada pihak Illumination, Chris Meledandri justru meminta Coffin untuk terus menjadi pengisi suara Minion. Keputusan tersebut akhirnya bertahan hingga waralaba itu berkembang menjadi salah satu franchise animasi tersukses di dunia.
Seiring berjalannya waktu, Coffin tidak hanya menciptakan suara Minion, tetapi juga mengembangkan bahasa khas yang kemudian dikenal sebagai “Minionese”.
Bahasa tersebut mulai berkembang saat produksi film “Despicable Me 2”. Coffin terinspirasi setelah mengetahui distributor Italia menerjemahkan ocehan Minion dalam versi lokal film pertama.
Sejak saat itu, ia mulai memasukkan berbagai kata dari sejumlah bahasa dunia ke dalam dialog Minion, termasuk bahasa Italia, Prancis, Spanyol, Jepang, Korea, Hindi, Jerman, Filipina, hingga bahasa Indonesia.
Menurut Coffin, pemilihan kata-kata tersebut lebih didasarkan pada melodi dan ritme bunyi dibandingkan makna sebenarnya.
Ia memperkirakan saat ini terdapat sekitar selusin bahasa yang telah menjadi bagian dari kosakata Minionese setelah kemunculan tujuh film dan sejumlah film pendek.
Selain kata-kata dari berbagai bahasa, Coffin juga kerap mengambil inspirasi dari makanan maupun nama tokoh yang dianggap menarik. Beberapa kata yang masuk ke dalam percakapan Minion antara lain “pancake”, “panna cotta”, “nasi goreng”, “tikka masala”, dan “carbonara”.
Bahkan dalam film pendek “Mooned”, salah satu Minion berteriak menyebut nama aktris Rosamund Pike hanya karena Coffin baru saja menonton film yang dibintanginya dan menganggap nama tersebut terdengar unik.
Dalam proses produksinya, Coffin juga kerap melakukan penyesuaian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di berbagai negara. Beberapa kata bahkan harus direkam ulang apabila terdengar mirip dengan ungkapan yang dianggap tidak pantas di wilayah tertentu.
Sejak produksi “Despicable Me 2”, proses pengisian suara Minion dilakukan dengan teknik yang lebih rumit. Coffin harus merekam dialog dalam gerakan lambat menggunakan perangkat lunak khusus agar hasil akhirnya tetap sesuai ketika dipercepat.
Ia mengakui proses tersebut sangat melelahkan hingga sempat memutuskan mundur dari peran sutradara dalam beberapa proyek lanjutan demi fokus pada pengisian suara karakter tersebut.
“Ada harga yang harus dibayar dengan menyutradarai dan mengisi suara. Otak saya terasa seperti terbakar,” kata Coffin.
Meski demikian, ia tetap enggan menyerahkan suara Minion kepada orang lain. Menurutnya, terdapat hubungan yang sangat spesifik antara dialog yang diucapkannya dan gerakan animasi yang ditampilkan di layar.
Coffin menilai perpaduan antara suara dan animasi Minion memiliki unsur yang sulit dijelaskan, sehingga perubahan pada salah satu unsur tersebut dapat mengurangi daya tarik karakter yang telah dikenal luas oleh penonton.
Waralaba Minion kini berlanjut melalui film terbaru “Minions & Monsters”, yang membawa petualangan para Minion ke Hollywood pada era 1920-an. Film tersebut menghadirkan karakter alien bernama Dort yang disuarakan oleh Jesse Eisenberg.
Selain itu, film tersebut juga dibintangi oleh Zoey Deutch sebagai Debbie, serta Jeff Bridges dan Bobby Moynihan yang berperan sebagai taipan industri hiburan di Amerika Serikat.











