Jakarta (DMS) – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini, Senin (14/7/2025). Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.04 WIB, rupiah tercatat melemah 0,10% ke posisi Rp16.233 per dolar AS.
Pelemahan rupiah sejalan dengan tren sejumlah mata uang Asia lainnya, sementara indeks dolar AS justru sedikit menguat, naik 0,28% ke level 97,85, mencatatkan penguatan mingguan setelah dua pekan berturut-turut melemah.
Mata uang regional menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Yen Jepang menguat 0,20% dan baht Thailand naik 0,12%. Sementara itu, mata uang lain terpantau melemah, seperti dolar Singapura (0,05%), dolar Taiwan (0,04%), won Korea Selatan (0,14%), peso Filipina (0,16%), yuan China (0,01%), dan ringgit Malaysia (0,12%). Dolar Hong Kong tercatat stagnan.
Kekuatan dolar AS turut ditopang oleh data ketenagakerjaan yang masih solid serta notulen rapat kebijakan Federal Reserve yang menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Dari sisi eksternal, pasar global tengah mencermati pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif impor sebesar 30% terhadap produk dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus mendatang. Pernyataan ini menambah ketidakpastian perdagangan global dan turut menekan sentimen pasar.
“Pasar kembali dihantui kekhawatiran tarif setelah Trump mengusulkan tarif menyeluruh, meski reaksi pasar masih terkendali,” kata Michael Brown, analis pasar di Pepperstone.
Sementara itu, ekonom pasar senior NAB, Taylor Nugent, menyatakan bahwa ketenangan pasar bisa mencerminkan dua hal: ketahanan terhadap gejolak atau justru sikap masa bodoh terhadap kebijakan yang tidak konsisten.
Meski saat ini dolar masih menunjukkan penguatan, sejumlah analis menilai ada potensi pelemahan jangka menengah.
“Pandangan dasar saya masih mendukung pelemahan dolar AS secara perlahan, tetapi ada ruang bagi penguatan teknikal dalam waktu dekat,” tambah Brown.DMS/BC










