Washington (DMS) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, dengan menyatakan AS akan menyerang negara tersebut “sangat keras” apabila aparat Iran mulai membunuh para pengunjuk rasa di tengah gelombang protes yang berlangsung sejak akhir Desember lalu.
“Jika mereka mulai membunuh orang, seperti yang sering mereka lakukan saat terjadi kerusuhan, maka kami akan menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump dalam wawancara dengan The Hugh Hewitt Show, Kamis (8/1). Ia menegaskan Iran telah menerima peringatan tegas dan akan menghadapi konsekuensi berat jika kekerasan terhadap demonstran terjadi.
Pernyataan Trump diperkuat oleh Wakil Presiden AS JD Vance yang menyatakan dukungan Washington terhadap aksi unjuk rasa damai, termasuk yang berlangsung di Iran. “Kami berdiri bersama siapa pun yang melakukan protes damai untuk memperjuangkan hak-hak mereka,” ujar Vance dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Vance juga menekankan pentingnya jalur diplomasi terkait program nuklir Iran. Menurutnya, langkah paling rasional bagi Teheran adalah membuka negosiasi serius dengan Amerika Serikat mengenai isu nuklir tersebut.
Gelombang protes di Iran bermula pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, pusat kegiatan ekonomi ibu kota. Aksi tersebut dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial serta memburuknya kondisi ekonomi. Nilai rial dilaporkan merosot hingga menembus 1.350.000 per dolar AS, memicu demonstrasi yang kemudian meluas ke sejumlah kota lain.
Hingga kini, otoritas Iran belum mengumumkan data resmi korban. Namun, Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan sedikitnya 38 orang tewas, termasuk empat anggota pasukan keamanan, hingga hari ke-11 protes. Selain itu, puluhan orang dilaporkan terluka dan sedikitnya 2.217 orang ditangkap.
Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan jumlah polisi yang terluka dalam kerusuhan meningkat menjadi 568 orang, serta 66 anggota pasukan relawan paramiliter Basij juga mengalami luka-luka selama aksi protes berlangsung.
DMS/AC











