Ambon, Maluku (DMS) – Pemuda di Kota Ambon didorong untuk terus mengembangkan kreativitas dan kemampuan kewirausahaan guna menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
Dorongan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku, Sandi Wattimena, saat membuka Ambon Creativepreneur Session 4 Tahun 2026 di Zest Hotel Ambon, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Resilient & Relevant: Respon Kreatif Pemuda Ambon Menghadapi Tantangan Ekonomi Global” ini berlangsung selama 18–19 September 2026.
Sandi mengatakan, Pemerintah Provinsi Maluku mendukung pelaksanaan kegiatan yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Ambon tersebut karena menjadi ruang untuk mengembangkan ide, gagasan, serta kemampuan pemuda di bidang ekonomi kreatif.
“Kami mendukung sepenuhnya kegiatan yang dilaksanakan oleh dinas kota. Ini memajukan pemuda dari sisi ide, gagasan, serta kemampuan mereka di dalam bidang ekonomi kreatif,” kata Sandi.
Menurutnya, Ambon Creativepreneur bukan kegiatan yang baru dilaksanakan. Program tersebut telah memasuki session keempat.
Sandi berharap kegiatan ini dapat melahirkan lebih banyak anak muda yang memiliki kreativitas sekaligus kemampuan dalam bidang kewirausahaan.
“Harapannya untuk kegiatan ini adalah menghasilkan anak-anak muda yang kreatif dalam bidang entrepreneur. Jadi, saya kira ini cukup bagus,” ujarnya.
Diikuti Puluhan Pemuda
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Ambon, Richard Luhukay, mengatakan kegiatan tersebut terbuka bagi pemuda berusia 16 hingga 30 tahun yang memiliki ide kreatif di bidang ekonomi kreatif.
Richard menyebut, terdapat sekitar 60 peserta yang terdata dalam kegiatan tersebut. Namun, berdasarkan daftar absensi, peserta yang hadir pada pelaksanaan hari pertama berada di kisaran 30 hingga 40 orang.
Ia menjelaskan, Ambon Creativepreneur 2026 dikemas dalam dua sesi selama dua hari.
Hari pertama diisi dengan bimbingan teknis atau coaching clinic untuk memberikan pemahaman kepada peserta. Selanjutnya, pada hari kedua peserta akan melakukan pitching untuk mempresentasikan ide atau gagasan yang mereka tawarkan.
Ide tersebut kemudian akan dinilai oleh sejumlah juri.
“Harapan kami ke depan adalah ini menjadi peluang atau ruang belajar. Karena kegiatan hari ini, Ambon Creativepreneur ini dikemas dalam dua sesi, dua hari,” jelas Richard.
Peserta yang lolos dalam proses penilaian akan mendapatkan bantuan dana untuk mendukung dan mengembangkan usaha maupun kegiatan kreatif mereka.
“Ketika mereka lolos dalam proses penilaian, mereka akan diberikan bantuan dana untuk bisa mendukung, menyemangati usaha-usaha atau kegiatan kreatif mereka ke depan,” katanya.
Libatkan Tiga Narasumber
Dalam pelaksanaan tahun ini, panitia menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda.
Mereka yakni Saiful Sahri, Kakanwil Kementerian Hukum Maluku, Frangky Louth, akademisi Politeknik Negeri Ambon yang aktif dalam bidang manajemen, pengembangan bisnis digital dan literasi keuangan UMKM, serta Rocky Tahapary, penggiat ekonomi kreatif.
Richard mengatakan, keterlibatan tiga narasumber tersebut dimaksudkan agar peserta memperoleh pengetahuan dari berbagai perspektif, mulai dari aspek kekayaan intelektual, akademik hingga praktik ekonomi kreatif.
“Yang pertama dari Kemenkum yang bicara tentang HAKI, tentang produk. Lalu kemudian ada juga dari komunitas, dari penggiat ekonomi kreatif. Lalu juga dari akademisi,” jelasnya.
Pada hari kedua, peserta juga akan berhadapan dengan tiga juri yang memiliki pengalaman dalam industri ekonomi kreatif.
Sementara itu, dalam materi yang disampaikan, Saiful Sahri menekankan pentingnya membangun usaha yang memiliki legalitas, perlindungan hukum, kualitas produk, serta nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Ia juga mengingatkan pelaku usaha untuk memperhatikan kekayaan intelektual, termasuk merek dan rahasia dagang, sebagai bagian penting dalam mengembangkan bisnis.
Menurut Saiful, merek yang telah memiliki nilai dan dikenal masyarakat dapat menjadi aset ekonomi bagi pelaku usaha.
Sementara itu, materi mengenai resilient juga menekankan pentingnya ketangguhan bagi pelaku ekonomi kreatif dalam menghadapi perubahan dan kesulitan.
Pelaku usaha kreatif, termasuk content creator, fotografer, videografer maupun pelaku usaha produk, dinilai membutuhkan proses yang berkelanjutan untuk membangun kemampuan dan mempertahankan usahanya.
Dalam sesi lainnya, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya meningkatkan kualitas kemasan dan memberikan label maupun logo pada produk agar lebih layak dipasarkan.
Upaya tersebut antara lain dicontohkan melalui pendampingan terhadap sejumlah kelompok usaha di Waiheru dan Liang dalam pengembangan kemasan produk makanan.
Ambon Creativepreneur 2026 diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan bagi pemuda Ambon untuk menghasilkan ide kreatif yang dapat dikembangkan menjadi usaha bernilai ekonomi dan berkelanjutan.
DMS











