Ambon, Maluku (DMS) – Proyek gas raksasa LNG Abadi Blok Masela di Laut Arafura, Maluku, kembali menunjukkan perkembangan signifikan. Proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2029 dan diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi Provinsi Maluku, khususnya Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya (MBD).
Blok Masela dikelola oleh konsorsium internasional yang terdiri dari INPEX sebagai operator utama dengan porsi 65 persen, Pertamina Hulu Energi (PHE) 20 persen, serta Petronas 15 persen. Proyek ini memiliki nilai investasi mencapai USD 20,94 miliar atau sekitar Rp342 triliun, dengan kapasitas produksi mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun.
Secara geografis, Blok Masela terletak di Laut Arafura, sekitar 170–180 kilometer barat daya Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dengan pusat pengembangan darat direncanakan berada di Pulau Yamdena. Wilayah kerja proyek ini mencakup area seluas 4.291,35 kilometer persegi, pada kedalaman laut antara 300 hingga 1.000 meter.
Setelah sempat mengalami penundaan selama puluhan tahun, proyek LNG Abadi kini kembali digenjot. Pemerintah bersama operator telah membawa proyek ini memasuki tahap Front End Engineering Design (FEED) atau desain teknis awal, yang menjadi fondasi penting sebelum konstruksi dimulai.
Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan penandatanganan kontrak penjualan gas, baik untuk kebutuhan domestik seperti PLN dan industri pupuk, maupun untuk pasar ekspor LNG. Pemerintah menargetkan proyek ini dapat onstream pada 2029, meskipun sebelumnya sempat mengalami kemunduran dari jadwal awal.
Salah satu manfaat utama Blok Masela bagi Maluku adalah penciptaan lapangan kerja dalam skala besar. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebutkan bahwa pada tahap pengembangan, proyek ini diperkirakan akan menyerap lebih dari 12.600 tenaga kerja, sementara pada tahap operasi akan melibatkan sekitar 850 pekerja tetap.
Selain tenaga kerja langsung, proyek ini juga diyakini akan mendorong tumbuhnya sektor pendukung seperti jasa konstruksi, transportasi, logistik, perumahan, hingga UMKM lokal di wilayah Maluku.
Blok Masela tidak hanya menghadirkan kilang LNG, tetapi juga mendorong pembangunan infrastruktur terpadu di Maluku. Infrastruktur utama yang direncanakan meliputi dua train kilang LNG darat dengan kapasitas total 9,5 juta ton per tahun, jaringan pipa gas domestik, fasilitas ekspor LNG, serta pembangunan jalan, listrik, dan kawasan perumahan pekerja.
Pemerintah bersama INPEX juga merencanakan pengembangan kawasan pendukung seperti Maluku Integrated Port, yang diharapkan dapat menjadi pusat logistik dan industri baru di kawasan timur Indonesia.
Dari sisi fiskal, pemerintah daerah Maluku berpeluang memperoleh Participating Interest (PI) sebesar 10 persen, yang memungkinkan daerah memperoleh pendapatan langsung dari pengelolaan Blok Masela. Skema ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas fiskal daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan potensi besar dan dukungan kuat pemerintah, Blok Masela diharapkan menjadi simbol kebangkitan Maluku sebagai lumbung energi nasional, sekaligus membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah kepulauan tersebut.DMS











