Saumlaki, KKT (DMS) – Menjelang perayaan Hari Raya Paskah, daya beli masyarakat di sejumlah pasar tradisional di Kota Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, menunjukkan kondisi yang bervariasi. Perbedaan mencolok terlihat antara aktivitas jual beli di Pasar Genangan dan Pasar Baru (Pasar Omele), yang berdampak langsung pada pendapatan para pedagang.
Di Pasar Genangan, aktivitas perdagangan terpantau relatif stabil. Sejumlah pedagang papalele yang menjual sayur dan ikan mengaku masih mampu memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Charles Kore, salah satu pedagang, menyebutkan bahwa pendapatan hariannya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000.
“Kalau di sini masih lumayan, sehari bisa dapat dua ratus sampai tiga ratus ribu. Cukup untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Nurdin, pedagang lainnya, yang menilai bahwa meskipun tidak mengalami lonjakan signifikan, penjualan tetap berjalan lancar menjelang hari besar keagamaan tersebut.
“Memang belum ada peningkatan besar, tapi pembeli tetap ada. Jadi kami masih bisa jual seperti biasa,” katanya.
Bahkan, untuk penjualan ikan tertentu, pendapatan pedagang bisa mencapai Rp700.000 hingga lebih dari Rp1 juta per hari, tergantung jenis dan ketersediaan ikan.
“Kalau ikan lagi banyak dan jenisnya bagus, bisa sampai satu juta lebih sehari,” tambah Nurdin.
Namun di balik capaian tersebut, para pedagang menyuarakan kekhawatiran terhadap rencana relokasi pedagang papalele dari Pasar Genangan ke Pasar Baru. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menurunkan pendapatan secara drastis.
Charles Kore mengungkapkan bahwa pengalaman sebelumnya menjadi alasan utama penolakan tersebut.
“Istri saya pernah coba jualan di Pasar Baru, tapi hasilnya jauh sekali. Tidak seperti di sini, pembelinya kurang,” ungkapnya.
Kondisi berbeda justru dirasakan para pedagang yang saat ini berjualan di Pasar Baru. Martinus Triola, pedagang sayur dan ikan, mengungkapkan bahwa menjelang Paskah, aktivitas pasar masih tergolong sepi.
“Di sini masih sepi, belum ada peningkatan. Pembeli sangat sedikit,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa pendapatan pedagang sayur rata-rata hanya berkisar antara Rp25.000 hingga Rp50.000 per hari.
“Kalau sayur kadang cuma dapat dua puluh lima sampai lima puluh ribu sehari,” katanya.
Sementara itu, pedagang ikan di Pasar Baru juga mengalami kondisi serupa, dengan penghasilan harian yang berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000. Angka tersebut dinilai jauh dari harapan, terutama di momen menjelang hari raya yang biasanya identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat.
“Harusnya menjelang hari raya begini lebih ramai, tapi kenyataannya masih sepi,” tambah Martinus.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah pedagang di Pasar Baru berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Kami berharap pemerintah bisa bantu supaya pasar ini lebih ramai, mungkin dengan kebijakan atau penataan yang lebih baik,” harapnya.
Para pedagang menilai bahwa tanpa intervensi yang tepat, kesenjangan aktivitas ekonomi antara kedua pasar akan terus terjadi. Selain itu, kebijakan relokasi dinilai perlu dikaji ulang dengan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan, agar tidak merugikan para pelaku usaha kecil.
“Kalau dipaksakan pindah tanpa solusi, kami takut justru makin susah,” tutup Charles.
Dengan situasi yang ada, dinamika pasar tradisional di Kota Saumlaki menjelang Paskah menjadi cerminan tantangan ekonomi masyarakat lokal, sekaligus menjadi perhatian penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang berpihak kepada pedagang kecil.DMS











