Ambon, Maluku (DMS) – Memasuki bulan kedua tahun 2026, geliat perekonomian di Kota Ambon belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang berarti. Aktivitas ekonomi yang biasanya mulai bergerak setelah pergantian tahun justru terlihat berjalan lambat, bahkan cenderung stagnan. Kota ini seperti sedang berjalan di tempat hidup, tetapi tanpa denyut pertumbuhan yang terasa.
Salah satu indikator paling nyata dari kelesuan ini terlihat pada sektor perdagangan. Sejumlah toko bangunan di dalam Kota Ambon mulai menutup usahanya. Bukan karena kalah bersaing semata, tetapi karena pembeli yang semakin jarang datang. Para pemilik usaha mengakui, daya beli masyarakat saat ini menurun jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Barang-barang yang dulu cepat terjual kini bertahan lama di rak, bahkan sampai berbulan-bulan tanpa pembeli.
Fenomena serupa juga tampak jelas di kawasan pertokoan AY Patty. Deretan bangunan toko yang dulunya ramai aktivitas kini banyak yang tutup. Beberapa pemilik memilih menyewakan bangunan mereka daripada mempertahankan usaha yang terus merugi. Pemandangan ini bukan hanya soal bisnis yang berhenti beroperasi, tetapi juga sinyal bahwa perputaran uang di kota ini sedang melemah.
Kondisi di Pasar Mardika pun tak jauh berbeda. Banyak ruko yang dulunya menjadi pusat transaksi kini tidak lagi membuka usaha. Sebagian bahkan sudah tutup permanen. Pasar yang biasanya menjadi barometer ekonomi rakyat kini kehilangan denyut ramainya. Sepinya pembeli membuat pedagang kesulitan menutup biaya operasional, apalagi memperoleh keuntungan.
Sejumlah warga yang sempat diwawancarai mengakui bahwa kondisi ekonomi saat ini memang sedang tidak bersahabat. Banyak yang memilih menahan belanja dan hanya fokus pada kebutuhan pokok. Rencana renovasi rumah, membeli perabot baru, atau membuka usaha kecil-kecilan terpaksa ditunda. Sikap hati-hati masyarakat ini wajar, tetapi di sisi lain memperlambat perputaran ekonomi secara keseluruhan.
Di kalangan pelaku usaha, ketidakpastian menjadi alasan utama enggan membuka atau memperluas bisnis. Mereka melihat situasi ekonomi yang tidak stabil dan daya beli masyarakat yang rendah sebagai risiko besar. Alih-alih mengambil peluang, banyak yang memilih menunggu keadaan membaik. Akibatnya, lapangan kerja baru tidak tercipta, dan roda ekonomi makin tersendat.
Sejumlah pengamat menilai perlambatan ekonomi ini tidak lepas dari dampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Pengurangan belanja di berbagai sektor, terutama yang sebelumnya mendorong perputaran uang di daerah, memberi efek domino terhadap perekonomian lokal. Proyek-proyek yang berkurang, kegiatan yang dibatasi, serta belanja pemerintah yang menurun ikut mengurangi aliran uang ke masyarakat.
Padahal, di kota seperti Ambon, peran belanja pemerintah masih sangat besar dalam menggerakkan ekonomi. Ketika anggaran dipangkas, dampaknya langsung terasa hingga ke pelaku usaha kecil, pedagang pasar, hingga penyedia jasa harian. Tanpa penyeimbang dari sektor swasta yang kuat, kontraksi ini menjadi semakin dalam.
Situasi ini tentu menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah maupun pemangku kebijakan di tingkat yang lebih tinggi. Stimulus ekonomi yang tepat sasaran, kemudahan bagi pelaku UMKM, serta penciptaan program padat karya bisa menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali daya beli masyarakat. Selain itu, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok juga penting agar beban masyarakat tidak semakin berat.
Ambon tidak kekurangan potensi. Sektor perikanan, pariwisata, dan ekonomi kreatif masih menyimpan peluang besar jika dikelola secara konsisten dan berkelanjutan. Namun potensi saja tidak cukup tanpa kebijakan yang mampu mendorong perputaran ekonomi secara nyata di tingkat bawah.
Kelesuan ekonomi yang terjadi hari ini harus menjadi alarm, bukan untuk menimbulkan pesimisme, tetapi untuk mendorong langkah cepat dan terukur. Tanpa intervensi yang jelas, Ambon berisiko kehilangan momentum pemulihan dan membiarkan masyarakatnya bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Kini yang dibutuhkan bukan hanya wacana, tetapi aksi nyata agar Kota Ambon kembali bergerak bukan lagi berjalan di tempat, tetapi melangkah menuju pemulihan dan pertumbuhan yang dirasakan bersama.DMS











