Ambon, Maluku (DMS) – Pemerintah Kota Ambon melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menggelar kegiatan Sosialisasi Ketahanan Budaya bagi negeri adat, desa, kelurahan, serta paguyuban, etnis lokal, dan tokoh pemuda di Kota Ambon. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 19 November 2025, di salah satu hotel dalam Kota Ambon, dan diikuti oleh 130 peserta.
Sosialisasi ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kota Ambon, Robby Sapulette, yang hadir mewakili Wali Kota Ambon. Dalam sambutannya, Sapulette mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai memiliki manfaat besar dalam menjaga kelestarian budaya lokal di tengah pesatnya perkembangan zaman.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk memastikan nilai-nilai budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah tantangan globalisasi. Kita harus menjaga jati diri Ambon yang kaya dengan tradisi dan kearifan lokal,” ujar Sapulette.
Ia juga menyoroti persoalan narkoba yang menjadi perhatian dalam sosialisasi ini, terutama bagi generasi muda.
“Generasi muda adalah penerus negeri ini. Karena itu, mereka harus dibentengi bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga nilai-nilai budaya agar tidak mudah terjerumus dalam persoalan seperti narkoba,” tegasnya.
“Kami berharap para peserta bisa meneruskan informasi dan pemahaman yang diperoleh kepada masyarakat di desa, kelurahan, maupun negeri masing-masing,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Kota Ambon, Oldrin Parinussa, menjelaskan bahwa sosialisasi ketahanan budaya bertujuan untuk melestarikan dan memperkuat nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini diwujudkan melalui pelaksanaan kegiatan adat seperti makan patita dan tradisi pela gandong yang menjadi identitas masyarakat Ambon.
“Ketahanan budaya tidak hanya soal melestarikan tradisi, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” jelas Parinussa.
Menurutnya, ada beberapa tujuan utama dari kegiatan tersebut, yakni melestarikan dan menerapkan nilai budaya dengan menghidupkan kembali adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk makan patita sebagai simbol persaudaraan.
“Melalui nilai persaudaraan ini, kita ingin memperkuat ikatan sosial. Filosofi potong di kuku rasa di daging dan sagu salempeng dipatah dua harus terus hidup sebagai jati diri orang Ambon,” ungkapnya.
Selain itu, kegiatan ini juga mendorong kemandirian lokal dengan mengoptimalkan sumber daya lokal, khususnya sagu, sebagai bagian dari ketahanan pangan dan kearifan lokal masyarakat adat.
Lebih lanjut, Parinussa menekankan pentingnya pelestarian cagar budaya.
“Cagar budaya adalah warisan yang tidak ternilai. Masyarakat harus memiliki kesadaran untuk menjaga, merawat, dan memajukannya demi keberlanjutan kebudayaan Kota Ambon,” katanya.
Parinussa berharap kegiatan ini dapat memperkuat identitas budaya dan meningkatkan peran masyarakat dalam menjaga warisan leluhur untuk generasi mendatang.DMS











