Jakarta (DMS) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong program skrining penyakit jantung bawaan (PJB) bagi siswa Sekolah Dasar (SD) sebagai langkah promotif dan preventif untuk memperluas cakupan deteksi dini pada anak.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid, mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan menemukan kasus lebih awal, tetapi juga meningkatkan edukasi serta kesadaran masyarakat terkait pentingnya pemeriksaan jantung sejak dini.
“Deteksi dini PJB pada anak sekolah menjadi upaya untuk memperkuat penemuan kasus lebih awal, sehingga anak-anak dengan PJB dapat segera memperoleh penanganan yang tepat,” ujar Nadia saat meninjau pelaksanaan skrining di SDN 03 Makasar, Jakarta Timur, Kamis.
Ia menjelaskan, PJB merupakan kelainan yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir dengan prevalensi sekitar 9–10 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Penyakit ini juga menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada tahun pertama kehidupan.
Sejak 2025, skrining PJB telah masuk dalam daftar layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program skrining di sekolah dasar ini merupakan kolaborasi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), khususnya Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB, bersama GE HealthCare.
Skrining dilaksanakan serentak pada 23 Januari hingga 14 Februari 2026 di 27 kota, mulai dari Aceh hingga Jayapura. Selain menemukan kasus secara dini, kegiatan ini juga bertujuan menghimpun data nasional sebagai fondasi pembentukan registri PJB yang lebih komprehensif.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB PERKI, Dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K), FIHA, menyebut program tersebut menjadi salah satu upaya skrining PJB anak terbesar di Indonesia.
“Dengan skrining gratis dan berseri ini, kami berharap anak dengan PJB dapat teridentifikasi lebih cepat sehingga tatalaksana bisa dilakukan sedini mungkin dan kualitas hidup mereka meningkat,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, GE HealthCare Indonesia menyediakan dukungan teknologi ultrasonografi dengan pencitraan berkualitas tinggi untuk pemeriksaan jantung pediatrik. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi diagnosis sekaligus memperluas akses layanan di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.
DMS/AC











