Moa, Maluku Barat Daya (DMS) – Seratusan siswa SMP PGRI Kaiwatu, Desa Kaiwatu, Kecamatan Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), menggelar aksi unjuk rasa di halaman sekolah, beberapa waktu lalu. Aksi tersebut berlangsung dengan pengawalan ketat dari para guru.
Dalam aksi itu, para siswa menyampaikan aspirasi secara lantang dan penuh semangat di hadapan dewan guru. Mereka menuntut agar SMP PGRI Kaiwatu segera dinegerikan, mengingat berbagai keterbatasan yang selama ini mereka alami dalam proses belajar-mengajar.
Aspirasi siswa tersebut dirangkum dalam lima poin tuntutan yang dibacakan oleh Ketua OSIS SMP PGRI Kaiwatu, Dresya Parasiena.
“Selama ini kami mengalami kekurangan guru, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan maksimal dan sangat merugikan kami sebagai siswa,” ujar Dresya saat membacakan tuntutan.
Poin kedua, para siswa meminta pihak yayasan segera mendatangkan tenaga pendidik tambahan.
Ketiga, yayasan diharapkan bersedia melepaskan SMP PGRI Kaiwatu untuk dinegerikan agar pemerintah dapat menempatkan guru sesuai kebutuhan sekolah.
Keempat, siswa menginginkan kualitas pendidikan yang setara dengan sekolah negeri lainnya.
Sementara poin kelima, para siswa menyatakan siap mengajukan mutasi ke sekolah negeri apabila tuntutan tersebut tidak mendapat respons.
“Kami tidak ingin terus dirugikan dalam proses belajar. Kami hanya ingin mendapatkan pendidikan yang layak dan setara dengan sekolah negeri,” tegas Dresya.
Sebelum mengakhiri aksi, Dresya kembali menyampaikan harapan mewakili seluruh siswa. Ia menegaskan bahwa selama ini para siswa belum mendapatkan perhatian yang memadai dari Yayasan PGRI, meskipun sekolah berada di bawah naungan yayasan tersebut.
“Kami hanya ingin belajar dengan tenang dan nyaman, serta memiliki masa depan pendidikan yang lebih baik,” tambahnya.
Menanggapi tuntutan tersebut, Kepala SMP PGRI Kaiwatu, Joice Likko, saat ditemui wartawan di ruang kerjanya mengatakan bahwa pihak dewan guru juga menginginkan sekolah tersebut mendapatkan rekomendasi dari yayasan agar dapat dibina oleh pemerintah.
“Pada prinsipnya, kami dari dewan guru sangat mendukung agar sekolah ini bisa dinegerikan, karena itu akan membantu menyelesaikan persoalan utama yang kami hadapi,” ujar Joice.
Joice menjelaskan, idealnya setiap mata pelajaran di SMP ditangani oleh satu guru. Namun saat ini, SMP PGRI Kaiwatu hanya memiliki tiga guru PNS, masing-masing guru Matematika, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Agama Kristen.
“Mata pelajaran lain terpaksa ditangani secara rangkap oleh guru yang ada, dan ini tentu tidak ideal bagi proses pembelajaran,” jelasnya.
Ia berharap Yayasan PGRI dapat segera memberikan rekomendasi agar SMP PGRI Kaiwatu dinegerikan, sehingga persoalan kekurangan guru dapat segera teratasi.
“Kami berharap ada solusi cepat demi masa depan pendidikan anak-anak di sekolah ini,” pungkasnya.DMS











