Jakarta (DMS) – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menerima peneliti Rismon Sianipar di Istana Wakil Presiden, Jumat. Dalam pertemuan tersebut, Gibran menyebut hubungan mereka seperti saudara setelah Rismon menyampaikan permohonan maaf terkait polemik yang sebelumnya muncul.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Rismon yang didampingi kuasa hukumnya tiba di Istana Wakil Presiden sekitar pukul 10.00 WIB. Pertemuan antara keduanya berlangsung tertutup dari awak media di kantor Wakil Presiden.
Sekitar 45 menit kemudian, Gibran dan Rismon keluar dari ruangan pertemuan dan menyapa para wartawan yang menunggu di area istana.
Gibran yang mengenakan setelan jas biru dongker dengan kemeja putih terlihat berbincang singkat dan menjabat tangan Rismon. Ia kemudian memeluk peneliti tersebut.
“Makasih, makasih, makasih. Pokoknya kita ini saudaraan. Sudah, enggak ada apa-apa lagi,” ujar Gibran.
Usai pertemuan, Gibran juga memberikan sebuah parsel berukuran besar kepada Rismon yang berasal dari Balige, Sumatera Utara.
“Ini, kan mau pulang kampung,” kata Gibran kepada Rismon. Mendengar hal itu, Rismon tampak tertawa sambil membawa bingkisan tersebut meski terlihat sedikit kewalahan karena ukurannya yang besar.
Sebelumnya, Rismon yang sempat menjadi tersangka dalam kasus tuduhan ijazah palsu terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyampaikan permohonan maaf serta klarifikasi melalui kanal YouTube Balige Academy yang diunggah pada Rabu (11/3).
Dalam klarifikasi tersebut, Rismon menyebut menemukan sejumlah temuan baru yang ia pertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademik, salah satunya mengenai keaslian ijazah Jokowi.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah objek kajian pada dokumen tersebut, seperti emboss dan watermark, menunjukkan konsistensi yang mendukung keaslian ijazah tersebut.
Pada kesempatan itu, Rismon juga menyampaikan permintaan maaf kepada Joko Widodo dan masyarakat atas polemik yang muncul sebelumnya.
“Ya tentu, saya pun minta maaf kepada publik. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca, dihina dengan narasi-narasi sesuka mereka,” ujarnya.
Menanggapi permohonan maaf tersebut, Gibran dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta pada Kamis (12/3) malam menyampaikan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum yang baik untuk saling memaafkan dan mempererat kembali tali persaudaraan.
“Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” kata Gibran.
Ia juga mengapresiasi sikap Rismon yang telah menyampaikan klarifikasi dan kesediaannya meninjau kembali pernyataan yang sebelumnya disampaikan kepada publik. Menurut Gibran, langkah tersebut mencerminkan kedewasaan dalam kehidupan berdemokrasi.
DMS/AC











